Di suatu tempat, sore hari, di dalam ruangan 2x3 seumpama dalam ruangan itu tak ada kasur pasti orang akan mengira itu adalah gudang. Seorang pemuda terbangun dari lamunannya. Dia segera mengambil handphone yang telah menemaninya hampir 5 tahun. Memilih sebuah nomor dan menekan tombol call.
"Slamat sore bos, lagi ngapain?" ucap pemuda itu.
"Lagi duduk2 bos, habis pulang kerja" balasnya dengan suara kecapean.
"Begini bos saya mau memasukkan prosal neh, kan sudah 4 tahun neh bos, ada kucuran dana gak ni tuk nyebrang laut menuju gunung?" tanya pemuda itu dengan suara berharap.
"Berhubung saya punya anggota habis pakai dana jadi kita pending dolo proposalmu" balasnya.
"Kalo sudah pake toga baru kita yang kesana" lanjutnya
"Waduh tunda lagi neh bos, tidak kangenkah?" balas pemuda itu dengan suara penuh harap.
"Siapa seh yang tidak kangen sama anaknya apalagi sudah lama tidak bertemu, kami juga disini kangen tapi kita punya persediaan hanya cukup untuk kami makan disini, kau bersabar saja" jawab suara dari hp dengan penuh kesabaran dan kebijaksana.
Pemuda itu terdiam sesaat kemudian terdengar suara dari hp itu lagi...
"Bagaimana skripsimu kapan kami menginjakkan kaki di jogja?" ujarnya.
"Skripsiku masih lama selesainya, apalagi minggu lalu pendaftaran pendadaran tuk wisuda oktober dah tutup, sekarang lagi cari orang tuk bantu gambar bos"balas pemuda itu.
"Tapi saya hanya bisa janjikan kalau saya akan berusaha untuk menyelesaikannya tahun ini?" lanjut pemuda itu dengan suara tegas.
Tapi jawaban dari hp itu membuat hati pemuda itu sesak, tapi sesaat kemudian pemuda itu mendapatkan semangat dan harapan baru.
"Tidak apa2 nak, kami disini tetap akan mendoakanmu, walau kau selesainya lama bagi kami itu tidaklah masalah yang penting kau menyelesaikannya" terdengar lebih berwibawa, penuh harapan, kasih sayang untuk anaknya.
Tanpa di sadari pemuda itu, sesuatu keluar dari matanya, Sebuah janji yang dia buat 4 tahun silam sirna. Tanpa disadarinya air mata itu jatuh membasahi pipinya. Janji yang dibuat di atas nisan tak akan ada lagi air mata di antara keluarganya sampai giliran pemuda itu tiba. Perjanjian yang telah dibuatnya telah dilanggarnya..
Tapi mengapa pemuda itu menangis, air matanya bukanlah air mata kesedihan tapi sebuah air mata bangga. Kenapa bisa?? Sebuah kepercayaan yang besar dan penuh kebijaksanaan. Memang sulit untuk dimengerti, tapi pemuda itu memahami bahwa selama ini keluarganya terus menaruh harapan di pundaknya, mereka terus berada di belakangnya. Sehingga ketika pemuda itu terjatuh, mereka dapat melihatnya, dibandingkan ketika mereka di depan pemuda itu. Ketika pemuda itu terjatuh mereka tidak akan menyadari bahwa pemuda itu terjatuh.
"aahhh" pemuda itu menarik nafas panjang "Trima kasih bos atas kepercayaan yang kalian berikan"
Terdengar suara hp di tutup. Pemuda itu terdiam sesaat memikirkan kembali pernyataan terahkir.
Dan pemuda itu sekali lagi mendapatkan sebuah harapan, semangat baru. Dan berusaha tuk menjadi seperti kedua orangtuanya, dimana selama ini pemuda itu berjalan di samping, kini dia memutuskan untuk berjalan di belakang orang-orang yang berada di sampingnya selama ini. Kenapa dia memutuskan seperti itu? Karena dengan kita dibelakang orang kita bisa menyadari bahwa orang itu akan jatuh, dengan cepat kita bisa menopang dia, kita dia akan berlari kita juga bisa berlari, ketika orang itu akan belok kita bisa belok tetap mengikuti dia. Menopang menjaga orang yang berada di depan kita, tanpa orang itu mengatakan aku terjatuh, bantu aku untuk berdiri.
Dengan kata lain, kepekaan terhadap orang disekitar kita akan lebih. Tanpa disadari orang itu, dan ketika orang itu sudah bisa berjalan sendiri, tanpa bantuan kita lagi. Perlahan kita bisa menghilang tanpa meninggalkan sebuah kenangan, tanpa disadari dan akan hilang seiring dengan langkah maju orang itu.
No comments:
Post a Comment